Qurbanisasi

"QURBANISASI”, QURBAN DARI YANG BERKECUKUPAN, KEPADA YANG MEMBUTUHKAN

Berbagi Cinta bersama Anak Yatim

Santunan bagi anak yatim dengan nuansa rekreasi yaitu Belanja Bareng Yatim

PKPU Bersama Warga Bersihkan Sisa Longsor

PKPU mengirimkan tim rescue untuk melakukan evakuasi

Pusat Pemulihan SEHATI “Sehatkan Keluarga dan Buah Hati Indonesia"

Pusat Pemulihan SEHATI merupakan salah satu dari program SEHATI yang dilaksanakan oleh PKPU Kota Semarang bersama PT. Phapros, Tbk di Kabupaten Semarang...

Berbagi Bingkisan Lebaran

PKKPU Berbagi Bingkisan Lebaran

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2016

Terminasi Program Kampung Nutrisi, Saatnya Warga Meteseh Mandiri Secara Kesehatan

Dok. PKPU

Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Cabang Semarang bekerjasama dengan Yayasan Mardi Waluyo, mengadakan acara Terminasi Program Kesehatan Kampung Nutrisi, Semarang (8/2/2016). Acara tersebut diselenggarakan pada pukul 09.00 – 12.00 WIB di Posyandu Delima RW VI Dusun Genting Kel. Meteseh Kec. Tembalang Kota Semarang.

Acara ini turut mengundang kepala kelurahan Meteseh, PKPU Semarang, pengurus Yayasan Mardi Waluyo, para kader posyandu dan warga RW VI. Prosesi acara terminasi, diisi dengan simbolisasi penyerahan sertifikat lulus untuk balita lulus gizi baik, kenang – kenangan alat cek kesehatan dan seragam untuk para kader posyandu, panen raya di Kebun Sehat bersama, dan demo masak hasil panen raya.

Setelah selama satu tahun pendampingan, maka setelah acara terminasi tersebut, PKPU dan mitra akan melakukan pemantauan agar program bisa berjalan dengan mandiri dilaksanakan oleh para warga.

“Semoga program ini bisa ditumbuh kembangkan dan menjadi contoh, tidak hanya berhenti sampai disini saja”, ujar Agus Suryanto, S. Sos, MM selaku Kepala Kelurahan Meteseh

Diantara banyak kelurahan di kecamatan Tembalang, kelurahan meteseh menjadi prioritas berdasarkan hasil social mapping yang dilakukan PKPU di awal 2015 lalu. Sampai proses rembug warga menghasilkan RW IV menjadi prioritas dilaksanakannya program Kampung Nutrisi.

“Satu posyandu menangani 101 balita, saya kira cukup butuh dukungan”, ujar surur Kepala cabang PKPU Semarang.

Kampung Nutrisi merupakan sebuah program gizi berbasis masyarakat yang fokus pada proses rehabilitasi malnutrisi dan pemeliharaan status gizi balita binaan. Program ini juga fokus terhadap peningkatan gizi balita dengan pemantauan balita gizi buruk dan kurang, pengukuran antropometri, pemberian PMT dan PMT P (Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan), dan edukasi balita. Serta intervensi kemandirian dengan membentuk Kebun Sehat. Selama satu tahun berjalan, program kampung nutrisi telah meluluskan 6 balita gizi buruk atau kurang menjadi gizi baik.

“Kami bergembira, selaku yayasan kami mempunyai dana bisa disalurkan untuk kegiatan sosial terutama untuk kegiatan pendidikan dan kesehatan dan Kampung Nutrisi ini termasuk kesehatan”, ujar tutur Prof. DR. Dr. Hariyono Soeyitno, Sp. A (K) selaku Pembina yayasan Mardi Waluyo. [Abhy]

Rabu, 03 Februari 2016

“Kami Hanya Mengandalkan Air Hujan” Kisah Para Pencari Air di Tanah Berbatu Wonogiri

Udara sejuk memenuhi rongga paru-paruku, sepertinya hujan membasahi Tembalang - Semarang semalam tadi. Atau mungkin karena masih terlalu dini hari, untuk ukuran kota yang telah terkontaminasi polusi, udara pagi ini cukup menyegarkan. Hari ini aku bersiap lebih awal dari biasanya. Aku dan teman-teman telah membuat kesepakatan, pukul 05.00 kami bertemu di kantor. Sebuah misi yang berawal dari mimpi akan kami jalankan hari ini. Semoga misi kami berjalan lancar.
Bekerja di sebuah Lembaga Kemanusiaan Nasional selama dua tahun adalah arena bagiku untuk menjelajahi dunia filantropi dan segala isinya. Selama penjelajahan ini aku menemukan banyak hal lain tentang arti berbagi. Tentu tak hanya aku, pun dengan teman-temanku seperjuangan. Banyak cerita dan catatan seru juga haru yang kami dapatkan selama langkah kaki kami mengayun dan berlari. 
Catatan perjalanan kami kali ini adalah tentang sebuah pencarian sumber kehidupan yang terkubur jauh di bawah tanah bebatuan. Tentang misi yang mengantarkanku pada sebuah tempat di Wonogiri yang selalu krisis air di kala kemarau. Aku tak menyangka, Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah, ternyata ada juga di sudut lain wilayahnya yang kekurangan sumber daya alam. Daerah ini bernama Dusun Gambiranom, Desa Gambirmanis, Pracimantoro Wonogiri. Informasi dari tim pendahulu kami yang telah mengadakan survey geolistrik sebelumnya, terdapat debit air yang cukup di kedalaman 170 meter di bawah permukaan tanah. Sebuah angka yang fantastis untuk usaha pengeboran sebuah sumur.
….
Wonogiri. Kami telah memasuki daerah perbukitan. Jalan yang kami laluipun mulai menyempit, bukan jalan beraspal lagi. Rupanya jalan ini dibangun dari susunan bebatuan yang ditata rapi. Untuk memudahkan kendaraan lewat, lajur kanan dan kiri jalan ini ditutup dengan semen, hanya selebar roda mobil saja. Ketika roda mobil keluar dari lajur semen, goncangan akan lebih terasa seperti gempa karena melewati jalan berbatu. Mata kamipum dimanjakan dengan warna hijau di kiri kanan jalan yang terlihat dari jendela mobil, tampak pohon-pohon jati dan tanaman jagung sedang meninggi dengan suburnya.
“Daerahnya hijau, seperti tak kekurangan air,” gumamku.
“Saat hujan seperti ini memang terlihat subur, namun jika musim kemarau menjadi gersang,” kata Pak Indra yang sebelumnya pernah datang survey kesini.
Mobil masih melaju dengan perlahan di jalan berbatu. Dari kejauhan tampak seorang nenek berjalan di depan kami. Mendadak beliau menjadi perbincangan hangat kami, mengalahkan topik pembicaraan sebelumnya. Kami lihat nenek itu berjalan tanpa alas kaki menyusuri jalan berbatu di bawah terik matahari. Yang membuat aku bertanya-tanya, dari mana dan kemana tujuan nenek tersebut, karena sejak kami memasuki jalan perbukitan ini, kami takmenemukan rumah penduduk. Praktis, kami menyimpulkan sepertinya nenek tersebut telah berjalan seorang diri cukup jauh diantara pepohonan jati dan jagung dengan terpaan terik matahari. Kami pun memutuskan untuk memberi tumpangan kepada nenek tersebut. Ternyata sebelum mobil kami berhenti untuk menawarkan tumpangan, sang nenek telah melambaikan tangan terlebih dahulu, sinyal bahwa beliau membutuhkan tumpangan yang sebenarnya akan kami tawarkan. Nenek tersebut tampak sangat lelah, kakinya tampak kasar, legam dan pecah-pecah. Wajah keriputnya semakin mempertegas usianya yang tak lagi muda. Kami pun mempersilahkan nenek untuk masuk ke dalam mobil. 
Salah seorang teman yang duduk di sebelah nenek itu mencoba mengajaknya berbicara. Aku yang Jawa coret ini tidak paham apa yang mereka bicarakan. Hanya sedikit tahu jika ia berjualan daun jati yang harganya takseberapa dan selalu berjalan berangkat dan pulang lagi sampai ke rumahnya. Padahal jarak tempuh antata rumah dan pasar sangatlah jauh. Pantas saja kakinya dipenuhi varises, mungkin karena ia terlalu banyak berjalan. Hingga ketika kami sampai rumahnya, sang nenek menunjukkan rumah yang terlihat bagus di bagian depan milik anaknya, sedang di belakang rumah bagus yang ditunjuk nenek adalah rumah miliknya. Ingin rasanya aku meneteskan air mata. Rumah nenek itu lebih mirip sebuah kandang dengan dinding kayu usang dan ukuran petak yang kecil. Atapnya pun tak terlalu tinggi, hingga jika beberapa diantara kami akan masuk harus merendahkan kepala kami. Kenapa perbedaannya begitu mencolok antara ia dan anaknya. Pertanyaan besar yang hanya kusimpan sendiri. Pertemuan kami dengan sang nenek semakin membuat kami ingin membantu dusun ini.
Perjalanan dilanjutkan menuju rumah kepala dusun. Saat ini kondisinya sedang musim hujan, jadi lumayan mata dimanjakan dengan warna hijau. Sedangkan jika kemarau tiba, seperti berada di kota mati daerah gurun. Tampak kanan kiri bukit batu yang tertata apik. Seperti ditata sedemikian rupa.

Sesampainya kami di rumah kepala dusun Gambiranom, disambut dengan ramah. Rumah khas pedesaan dengan kandang sapi disebelah rumah. Sepertinya sedang ada pekerjaan disana. Bapak-bapaknya sedang mengolah kayu menjadi daun pintu.
Masuk ke dalam rumah, dengan kondisi ruang tamu yang lebar. Tak seperti rumah modern sekarang yang minimalis. Rumah dengan kursi dari kayu dan meja panjang yang sederhana. Menggambarkan sang pemilik rumah yang sederhana. Kami dipersilahkan duduk, dan dihidangkan makanan dan minuman dari hasil pertanian mereka. Disana pertama kalinya dalam 25 tahun, aku merasakan minum menggunakan air tadah hujan, pengalaman yang makin memperkaya spiritualku untuk lebih bersyukur dengan cara yang berbeda.

Cara mereka menyambut tamu sangat ramah dan memuliakan tamu. Semua dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. “Bagaimana rasanya?”, tanya bapak kepala dusun. Seperti cenayang yang tahu benar tentang kegelisahan kami.
Beberapa temanku menjawab,”Enak pak”. Aku hanya tersenyum tanda setuju.
“Semoga teman-teman dari PKPU Semarang suka dengan hidangan yang kami sediakan”, ucap pak kepala dusun.
Tanpa pikir panjang aku mengambil beberapa kacang dan jagung manis. Kacang yang digoreng menggunakan batu-batu halus menyerupai pasir dan jagung manis yang direbus dengan air tadah hujan. Mungkin ini yang disebut bali ndeso. Warga yang memanfaatkan kearifan lokal di sekitar, sayangnya mereka tak memiliki sesuatu yang sangat vital, yaitu air.
Menurut cerita Kepala dusun, daerah Gambiranom merupakan daerah dengan tanah berbatuan karst, sehingga penduduknya sulit mendapatkan air, hanya mengandalkan air hujan untuk aktivitas sehari-hari, pertanian, dan minum hewan ternak mereka. Warga menampung air hujan menggunakan talang air ditepian atap rumahnya kemudian air tersebut dialirkan menuju bak-bak penampungan yang berada didalam rumah.
“Saat ini belum ada warga yang berhasil membuat sumur, sepanjang musim kemarau warga membeli air, rata-rata setiap keluarga membeli dua tanki air setiap bulannya. Padahal warga dengan jumlah 56 KK ini, bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Secara ekonomi mereka kesulitan untuk membeli air. Hingga banyak diantara warga yang kemudian menjual ternaknya untuk membeli air”, kata kepala dusun.
Cerita terus mengalir, beliau bercerita tentang segala upaya dilakukan untuk mendapatkan air, mulai dari meminta bantuan pemerintah hingga swadaya masyarakat yang meminta bantuan sanak saudara. Dari cerita yang disampaikan tersirat mimpi besar mereka yang sampai sekarang belum terwujud. Impian adanya air yang mengalir di dusun mereka.
“Jika nanti ada yang membantu kami untuk membangun system air seperti PAM yang ada di kota, kami siap untuk bekerjasama walaupun tidak dengan uang, kami akan menyediakan tenaga sebagai bentuk partisipasi”, ucap kepala dusun yang menunjukkan kepada kami bahwa warga desa Gambiranom juga guyup rukun.
Air disini seperti harta karun yang luar biasa berharganya. Setiap tetesnya sangat berarti, hingga mereka rela menjual hewan ternak untuk membeli air ketika kemarau tiba. Kemarau ibaratkan musim yang seolah merenggut mata pencaharian mereka.
Aku tak dapat membayangkan hidup disini. Membayangkan air yang terbatas, bahkan tidak ada air. Tak ada satupun warga yang mempunyai sumur. Tak ada sungai karena tanah bebatuan yang sedari tadi memenuhi indra penglihatanku. Tanah yang bercampur bongkahan, putih pucat, keras, dan tampak teratur karena tertata rapi.
Di akhir cerita, kepala dusun menunjukan pada kami tempat penampungan air dan talang air yang digunakan sebagai jembatan air menuju kolam penampungan. Kolam penampungan berbentuk persegi panjang dan besar, mungkin dapat digunakan berenang untuk anak usia SD. Didalamnya tak begitu jernih, ada ikan kecil-kecil yang berenang didalamnya. Ikan yang digunakan untuk menghalau jentik-jentik nyamuk. Sayangnya kolam ini tidak begitu dijaga kebersihannya. Aku menemukan sampah plastik bungkus pasta gigi mengapung bersama ikan-ikan.
Talang air juga tidak terawat, terdapat karat dan sarang laba-laba. Karat ini yang tidak baik jika bercampur dengan air. Air minum dengan konsentrasi zat besi tinggi tidak akan membuat orang sakit. Namun, zat besi dapat mengubah warna dan bau air yang kemungkinan sudah tercemar sumber airnya.

Setelah ditunjukkan kolam dan talang air, perjalanan kami dilanjutkan melihat lokasi titik yang telah di survey oleh tim kami sebelumnya. Kami berjalan ke arah lapangan. Nuansa hijau memanjakan mata kami. Disinilah tim ahli melakukan survey yang disebut survey geolistrik. Menurut tim ahli PKPU, ia menjelaskan bahwa geolistrik adalah salah satu teknik untuk menentukan sumber air yang banyak dan bagus untuk dikonsumsi. Metode ini membutuhkan lahan yang cukup untuk eksplorasi mencari sumber mata air dalam tanah. Dengan adanya teknik ini kita dapat mengetahui kontur tanah yang terkandung didalamnya yang memiliki bebatuan.
Pengeboran air tanah kedalaman 50-200 m membutuhkan survey geolistrik, tanah yang memiliki karakteristik bebatuan akan terdeteksi sejala jelas bahwa di dalam air terdapat sumber  air yang melimpah dan memiliki debit air yang banyak.
Dari hasil survey geolistrik yang dilakukan oleh tim ahli dan tim PKPU Semarang melakukan survey di tiga titik. Didapatkan hasil air tanah dengan debit yang cukup pada kedalaman 170 m. Bukan angka yang sedikit dalam hal kedalaman, perlu tim ahli khusus dalam pengeboran di tanah berbatu. Tentunya memakan biaya yang tidak sedikit.

Di musim penghujan, dusun ini tampak asri. Warga dapat sejenak menikmati air tanpa cemas harus menjual hewan ternak mereka. Namun, jika kemarau tiba, dusun ini seperti bukan di Indonesia. Begitu gersang.
Adzan dzuhur berkumandang, kami melangkahkan kaki menuju mushala terdekat. Dalam perjalanan ke mushala kami melewati rumah penduduk yang kebanyakan sudah permanen. Aku bertanya pada kepala dusun, “Mengapa bangunan rumah sudah baik dengan bangunan yang permanen, sedangkan mereka tak dapat mengupayakan sumur?”
Kepala dusun tersenyum dan menjawab, “Pola pikir warga disini yang lebih mengutamakan pembangunan rumah daripada yang lain. Apalagi jika akan terjadi pernikahan, pasti membangun rumah. Selain karena pola pikir,  sistem ekonomi juga bobrok karena digrogoti oleh sistem pinjam berbunga. Tak hanya satu pintu peminjaman dari para peminjam berbunga itu, tapi dari berbagi pintu mereka pinjami. Seperti gali lubang tutup lubang. Belum lagi kondisi tanah berbatu disini yang dalam pengeboran butuh dana yang tak sedikit. Padahal mata pencaharian warga hanya petani dan peternak, tentunya mereka belum mampu.”



Aku jadi teringat nenek yang kami beri tumpangan tadi, mungkin inilah kenapa rumah anak perempuan nenek itu bagus sedang rumahnya tidak. Nenek itu seorang ibu pada umumnya, rela membangun bagus rumah anaknya dan membiarkan rumahnya seperti itu.
Dusun ini membukakan mata hatiku. Membuatku ingin membantu mereka. Menunjukkan pada mereka yang telah berkecukupan diluar sana, bahwa saudara kita sedang membutuhkan uluran tangan kita.
Seusai shalat, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung kidul. Daerah yang dulu sempat bernasib sama dengan dusun Gambiranom namun sudah mengalami perbaikan karena tim PKPU jogja dan masyarakat disana mengupayakan air bersih di dusun mereka.
Perjalanan menuju Gunung Kidul, kami tak merasakan seperti gempa ketika kami menuju Gambiranom, hanya saja naik turun seperti naik jet coaster di wahana permainan, hal yang membuat mata ini sulit terpejam. Sudah segala upaya dilakukan agar dapat tidur. Mata sudah mengantuk, tapi kondisi jalan membuat diri senantiasa tersadar. Sehingga kembali menyaksikan pemandangan indah lainnya lewat jendela mobil, misalnya kami melewati tempat pengolahan madu.

Perjalanan memakan waktu lebih dari 1 jam. Hingga kami tiba di dusun Jeruk legi, Gunung kidul. Kami singgah di sebuah rumah, yang ternyata disana adalah pusat pengelolaan Pamdus.
Pamdus adalah system pengelolaan air milik dusun Jeruk Legi. Seperti halnya PDAM yang ada di kota. Rumah sederhana ini milik warga yang dihibahkan untuk pusat pengelolaan dan administrasi Pamdus. Di dinding ada berbagai macam tulisan. Ada kesepakatan warga, foto-foto kegiatan, dan jadwal kegiatan di Pamdus. Seperti melihat majalah dinding jaman SMA.
Kami disana bertemu pak Ari selaku warga sekaligus pengelola. Ia banyak cerita berdirinya Pamdus, mulanya desa ini mengambil air dari sungai yang tidak bersih. Sungai yang dangkal, airnya sedikit itu dimanfaatkan untuk mandi, mencuci, minum, dan memasak, bahkan untuk memandikan hewan ternak seperti kerbau.
Hingga tim PKPU jogja memberikan masukan dan mendorong untuk membuat sistem pembangunan air bersih, atau biasa mereka sebut Pamdus. Setelah dilakukan survey geolistrik, sumber mata air yang layak digunakan dan debit cukup untuk masyarakat sedalam 70 m.
Dilakukanlah rembug warga untuk membahas pengeboran dan pengelolaannya setelah sumur dibangun. Warga mendukung penuh, mereka ikut berkomitmen turut andil dalam pembangunan. Sebulan penuh mereka bergotong royong bergantian membangun bak penampungan selagi pengeboran dilakukan tim ahli. Bak penampungan berbentuk seperti kolam besar yang ditempatkan di dataran tertinggi dusun. Dari kolam penampungan dipasang pipa yang nantinya mengalir ke rumah warga sepaket dengan meteran seperti system yang digunakan PDAM.
Tak hanya bapak-bapak, ibu-ibu, dan pemudanya pun ikut terjun membantu proses pembangunan. Hingga target mereka ketika hari raya itu tiba, mereka dapat merayakannya dengan masuknya air bersih ke dusun Jeruk Legi. Pembangunan dimulai saat ramadhan tiba, kondisi menahan lapar dan dahaga tak menyurutkan langkah warga.
Impian warga dusun Jeruk Legi terwujud, air mengalir di rumah warga. Mereka kini punya sistem pengelolaan pamdus, mulai dari petugas yang mencatat meteran hingga yang mengurus administrasi. Semua berdasarkan sukarela dari warga, tanpa mendapat upah untuk pengelolanya. Kini dari hasil pengelolaan Pamdus, uang kas terkumpul tiga belas juta rupiah. Dana yang digunakan untuk maintenance alat, menguras bak, atau menambah pelanggan Pamdus. Sistem pembayaran yang sudah disepakati sebelumnya dalam rembug warga.


Setelah program Pamdus berjalan dengan baik, di dusun tersebut menggalakan program arisan jamban dan penanaman pohon untuk menyerap air. Kehidupan mereka kini jauh lebih baik. Air memang sumber kehidupan.
Setelah berkeliling untuk melihat Pamdus, kami berpamitan dengan warga dan tim PKPU Jogja. Kondisi di dusun Jeruk Legi setelah berdiri Pamdus membuatku berangan-angan kelak dusun Gambiranom, Wonogiri akan merasakan hal sama.
Saat memandang matahari tenggelam ketika perjalanan menuju Semarang aku bersimpuh. Matahari tenggelam yang aku lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di dusun Gambiranom Wonogiri. Matahari itu menjadi saksi bahwa kelak dengan ikhtiar, bantuan, dan doa kita, air akan mengalir disana, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih hijau seperti pemandangan surga.
Akhir dari perjalananku selama 12 jam antara Semarang-Wonogiri-Jogja justru mengantarkanku pada titik awal pencarian arti berbagi selanjutnya. Makin mendekatkanku pada keyakinan bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan bantuan kita. 

Oleh : Margie Agami Haq
Editor : Abhy Hikmatyar

Senin, 25 Januari 2016

Dalam Rangka Hari Gizi Nasional, Warga Meteseh Buat Kebun Sehat


Beberapa tanaman seperti bayam hijau, bayam merah, terong, pare, sawi dan cabe menghiasi sepetak tanah yang digunakan warga Dusun Genting RW 6 Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang Semarang untuk dijadikan sebagai kebun sehat. Kebun sehat tersebut digunakan untuk mendukung kemandirian program “Kampung Nutrisi” dalam rangka memberikan kontribusi untuk peningkatan gizi balita dengan memanfaatkan potensi tanaman lokal. Kebun sehat yang dikelola oleh para kader posyandu Delima, saat ini dalam masa perawatan akan ditanam kembali dengan bibit kangkung. Kebun Sehat Sudah pernah panen 1 kali sejak penanaman bulan november 2015.

Kebun sehat merupakan bagian dari program Kampung Nutrisi kerjasama Yayasan Mardi Waluyo dan PKPU Semarang untuk mengentaskan permasalah gizi balita di daerah Meteseh. Program tersebut berlangsung sejak Februari tahun 2015. Hingga saat ini, keberlangsungan program berjalan dengan baik dan masyarakat cukup kooperatif dalam bekerjasama.

Menurut Nurkhayati selaku Pelaksana Program Kampung Nutrisi dari PKPU Semarang, menuturkan bahwa Program Kampung Nutrisi sudah mulai menampakan keberhasilannya.

“Program Kampung Nutrisi sudah berhasil mengentaskan 6 balita gizi buruk dan kurang,  dari 12 balita yang menjadi pemantauan dalam program”, tutur Nur

 Selain itu juga, dengan adanya pelatihan kader posyandu saat ini kader posyandu sudah berhasil mengelola administrasi posyandu dengan baik dan mampu memberikan penyuluhan mandiri di posyandu.


Program Kampung Nutrisi di Meteseh, hingga saat ini sudah melakukan beberapa kegiatan yang diantaranya yaitu, pusat pemulihan balita malnutrisi, pemberian PMT pemulihan, pemberian PMT posyandu umum, penyuluhan, demo masak, kunjungan ke rumah balita malnutrisi bersama dokter dan pelatihan kader posyandu. [Abhy|PKPUSMG]

Senin, 26 Oktober 2015

SEHAT BERSAMA INDONESIA POWER


dok.pkpu

Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Cabang Semarang bekerjasama dengan LAZ Nurul Barqi PT. Indonesia Power UBP Semarang, mengadakan acara Program Kesehatan Masyarakat Kelliling (PROSMILING), Semarang (8/10/2015). Acara tersebut dimulai pada pukul 09.00 – 12.00 WIB dan diselenggarakan di Posyandu RW 04 Kel. Tambakrejo Kec. Gayamsari, Kota Semarang.

Program ini dilaksanakan untuk melayani kesehatan warga sekitar, dengan rincian jenis pengobatan yaitu, pemberian makanan tambahan (PMT) balita, pengobatan umum, pasien medical check up, pemeriksaan mata pada anak usia sekolah dan penyuluhan kesehatan.

Dari Bendahara LAZ Nurul Barqi PT. Indonesia Power, Annik Widia Ariwati menuturkan bahwa, selain untuk menyehatkan warga sekitar perusahaan, program ini juga sebagai bentuk mempererat tali silahturahim antara PT. Indonesia Power dengan lingkungan sekitar perusahaan sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan sebagai tujuan community development perusahaan.

“Merupakan komitmen kami untuk bersinergi dan memberikan kepedulian bersama dengan warga sekitar perusahaan”, ujar Annik.

Masyarakat kelurahan Tambakrejo, khususnya pada RW 04 mengaku sangat berterima kasih kepada PKPU Semarang dan PT. Indonesia Power atas bantuan program dan perhatian selama ini.

“Alhamdulillah, wilayah kami selama ini mendapat perhatian dari IP dan PKPU, semoga ke depan ada program lain yang bisa berjalan yang dapat diberikan”, tutur Sugiyono, selaku ketua RW 4.

(Abhy)

PKPU GANDENG PT. PLN PMK ADAKAN PENGOBATAN GRATIS DI GAJAHMUNGKUR

dok. pkpu

Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Cabang Semarang bekerjasama dengan PT. PLN (Persero) Pusat  Manajemen Kontruksi, mengadakan acara Program Kesehatan Masyarakat Kelliling (PROSMILING), Semarang (20/10/2015). Acara tersebut dimulai pada pukul 08.00 – 12.00 WIB dan diselenggarakan di Balai RW 03 Kelurahan Bendan Ngisor, Kota Semarang.

Program ini dilaksanakan untuk melayani kesehatan warga sekitar, dengan layanan posyandu ballita dan posyandu lansia.

Menurut Kepala Cabang PKPU Semarang M. Miftahul surur, dalam sela – sela sambutannya, menuturkan untuk mengajak warga untuk menjaga kesehatannya, disamping para stakeholder mengusakan pengobatan gratis untuk masyarakat.

“Nikmat sehat, memang nikmat yang sering dilupakan oleh kita semua,” tutur Surur.

Dari pihak PT. PLN (Persero) PMK, diwakilkan oleh Veri Setiawan mengaku bangga bisa menyalurkan program kesehatan dan bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

“Semoga program ini dapat bermanfaat bagi warga sehingga akan lebih sehat dan produktif”, ujar Veri

Masyarakat kelurahan Bendan Ngisor, khususnya pada RW 03 mengaku sangat berterima kasih kepada PKPU Semarang dan PT. PLN PMK atas bantuan program dan perhatian selama ini.

“Alhamdulillah, wilayah kami selama ini mendapat perhatian dari PLN PMK dan PKPU, semoga ke depan ada program lain yang bisa berjalan yang dapat diberikan”, tutur Sugeng

 (Abhy)

Selasa, 05 Mei 2015

PKPU SEMARANG DAN PT. INDONESIA POWER BERHASIL LAYANI KESEHATAN HINGGA 6660 PASIEN



Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Cabang Semarang bekerjasama dengan LAZ Nurul Barqi PT. Indonesia Power UBP Semarang, mengadakan acara Program Kesehatan Masyarakat Kelliling (PROSMILING), Semarang (5/5/2015). Acara tersebut dimulai pada pukul 09.00 – 13.00 WIB dan diselenggarakan di Posyandu Mawar Merah RW 06 Kel. Tambakrejo Kec. Gayamsari, Kota Semarang.

Program ini telah melayani sejumlah 361 pasien dengan rincian jenis pengobatan yaitu, pemberian makanan tambahan (PMT) balita, pengobatan umum, pasien medical check up dan pemeriksaan mata pada anak.

Menurut Kepala Bidang Pendayagunaan PKPU Semarang, M. Subhanudin Nasrullah, menuturkan bahwa program ini merupakan bentuk sinergi komitmen PT. Indonesia Power kepada PKPU Semarang untuk kesehatan masyarakat di daerah sekitar perusahaan.

“Sejak tahun 2011, program ini telah berhasil melayani sejumlah 6660 pasien. Semoga ke depan kerjasama ini terus berlangsung”, tutur Subhanudin.

Dari Bendahara LAZ Nurul Barqi PT. Indonesia Power, Annik Widia Ariwati juga menuturkan bahwa, selain untuk menyehatkan warga sekitar perusahaan, program ini juga sebagai bentuk mempererat tali silahturahim antara PT. Indonesia Power dengan lingkungan sekitar perusahaan sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan sebagai tujuan community development perusahaan.

“Semoga program ini dapat bermanfaat bagi warga sehingga akan lebih produktif”, ujar Annik.

Masyarakat kelurahan Tambakrejo, khususnya pada RW 06 mengaku sangat berterima kasih kepada PKPU Semarang dan PT. Indonesia Power atas bantuan program dan perhatian selama ini.

“Alhamdulillah, wilayah kami selama ini mendapat perhatian dari IP dan PKPU, semoga ke depan ada program lain yang bisa berjalan yang dapat diberikan”, tutur Sugiyono, selaku ketua RW 6.
(Abhy)


Rabu, 08 April 2015

PKPU Gandeng Yayasan Mardi Waluyo Kota Semarang Berupaya untuk Selamatkan Balita dari Gizi Buruk


Semarang (8/4/2015)  Sekitar 8 balita yang terjaring memiliki masalah gizi dan 1 balita gizi buruk, butuh pembinaan khusus di Desa Genting Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang. Itulah yang membuat Yayasan Wardi Waluyo mempercayai PKPU Semarang untuk bekerjasama guna berkontribusi memerangi angka gizi buruk/kurang di Kota Semarang.

Dalam program “Kampung Nutrisi”, Yayasan Mardi Waluyo telah menyutujui dan menandatangani MOU kerjasama dengan PKPU Semarang dan menggelontorkan donasi sebesar Rp 50.150.000,- guna mendukung program yang akan berjalan selama 1 tahun tersebut.  Bertempat di lantai 6 Rumah Sakit Hermina Semarang, acara penandatanganan kerjasama dilaksanakan dan dihadiri oleh pihak PKPU Semarang beserta para jajaran pengurus Yayasan Mardi Waluyo Semarang periode 2010-2015. Acara diawali dengan presentasi pengenalan company profile PKPU Semarang, dilanjutkan dengan penjelasan Program Kampung Nutrisi, diskusi dan diakhiri dengan pendatanganan Mou kerjasama.
“Kita sudah percaya PKPU, dan sepertinya perlu belajar dari PKPU”, tutur Prof. DR. Dr. Hariyono Soeyitno, Sp. A (K) selaku Pembina yayasan saat dijelaskan profil lembaga PKPU.

Banyak saran dan masukan dari jajaran pengurus yayasan yang berdiri sejak zaman Belanda ini, saat dijelaskan konsep dari program Kampung Nutrisi.

“Kenapa terjadi gizi buruk? Karena salah satunya adalah buruknya pola asuh balita”, tutur Nurkhayati selaku kordinator program Kampung Nutrisi PKPU Semarang saat ditanya alasan terjadinya gizi buruk di daerah sasaran. Dan salah satu latar belakang kenapa dipilihnya daerah sasaran program di Desa Genting Meteseh, adalah selain karena angka balita gizi kurang dan buruk yang ada di wilayah tersebut cukup banyak, juga karena rekomendasi dari Puskesmas Rowosari dan Dinas Kesehatan Kota Semarang. (Abhy)

Senin, 23 Maret 2015

DWP JAWA TENGAH GANDENG PKPU SEMARANG ADAKAN BAKTI SOSIAL KESEHATAN

Semarang (23/3/2015) Dalam rangka kegiatan sosial dan bentuk kepedulian untuk menyehatkan balita serta ibu hamil, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Holtikultura Provinsi Jawa Tengah dan Korpri Jateng bekerja sama dengan PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat) Cabang Semarang menyelenggarakan acara bakti sosial.


Bertempat di Posyandu Melati, Dusun Kawengen, Desa Kawengen Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang, acara bakti sosial tersebut diselenggarakan dan dimulai pada pukul 09.00 hingga pukul 13.00 waktu setempat. Dihadiri oleh warga dan pejabat setempat, acara bakti sosial tersebut diisi dengan agenda penyerahan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) Balita, PMT pemulihan untuk balita malnutrisi, PMT Ibu hamil, penyuluhan kesehatan dan lomba mewarnai untuk anak – anak.
Dari pihak PKPU Semarang yang diwakili oleh KaBid Kemitraan, Retno Widowati menyampaikan bahwa, berterima kasih sebanyak – banyaknya atas kepercayaannya untuk bermitra kepada PKPU Semarang di dalam acara bakti sosial kesehatan ini.

Program ini merupakan salah satu program charity yang dilakukan oleh DWP bekerjasama dengan PKPU Semarang dalam rangka meningkatan gizi balita dan menjaga kesehatan ibu hamil.
“Karena Angka Kematian Ibu (AKI) di Jawa Tengah cukup tinggi se – nasional”, tutur Bu Upik selaku ketua DWP.

Diharapkan melalui kegiatan ini, bisa menjadi solusi untuk membentuk generasi sehat yang merupakan tanggung jawab bersama. Selain juga para kader posyandu agar lebih termotivasi.

“Semoga bisa menjadi motivasi untuk para kader posyandu. Terima kasih untuk bantuan PMTnya, karena selama ini di posyandu hanya seadanya, bubur kacang ijo dan agar – agar saja”, tutur salalh satu kader posyandu.
Warga sangat antusias mengikuti rangkaian acara tersebut, dan berterima kasih sebanyak – banyaknya kepada PKPU Semarang dan mitra atas bantuan yang diterima mereka.


“Terima kasih atas bantuannya, program ini sangat positif untuk mewujudkan generasi yang sehat dan cerdas. Tentu saja program ini harus melibatkan semua warga agar program ini tidak sia – sia”, tutur Kepala Desa Kawengen. (Abhy)

Minggu, 01 Maret 2015

PKPU Semarang Resmikan Program “Kampung Nutrisi”

Semarang (28/2/2015).  Bertempat di RW VI Dusun Genting Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang, PKPU Semarang telah mengadakan acara Peresmian Program Kampung Nutrisi.  Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB pagi dengan turut mengundang Walikota Semarang yang diwakilkan dan diresmikan oleh Ir. Bambang Haryono selaku Kepala Bappeda. Acara tersebut juga turut dihadiri oleh Kepala Puskesmas, Camat Tembalang, pejabat setempat, warga setempat dan para tamu undangan Dilanjutkan dengan simbolisasi penyerahan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) Balita dan pelantikan kader posyandu.


Selain acara peresmian program, dalam rangkaian acara tersebut juga dilaksanakan penyuluhan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat), Posyandu dan pemberian PMT serta pengobatan gratis untuk warga sekitar yang turut diundang dalam acara peresmian program Kampung Nutrisi.
Kampung Nutrisi merupakan sebuah program gizi berbasis masyarakat yang fokus pada proses rehabilitasi malnutrisi dan pemeliharaan status gizi balita binaan. Program ini juga, akan berlangsung selama setahun atau dimulai dari Maret 2015 hingga Januari 2016 nanti. Dana program Kampung Nutrisi bersumber dari para donatur PKPU Semarang yang bersedia menyalurkan donasinya untuk program ini.
Tahap program yang sudah dilakukan hingga saat ini adalah, sosialisasi program kepada daerah sasaran, rembug warga, BLS (Base Line Survey) dan Pelatihan Kader Posyandu.
Menurut Ir. Bambang Haryono, selaku Kepala Bappeda menyatakan bahwa banyak memberikan apresiasi yang besar dan penghargaan setinggi – tingginya atas akan terlaksananya program ini.
“Dari tujuh program unggulan rencana pembangunan jangka menengah kami, program Kampung Nutrisi ini memuat tiga program dari sapta(tujuh) program itu, yaitu pendidikan-kesehatan, pemberdayaan wanita/gender dan penanggulangan kemiskinan” Tutur beliau.


Dengan diadakannya program Kampung Nutrisi ini, angka gizi kurang dan gizi buruk pada balita semakin berkurang dan masyarakat bisa Membudayakan kebersamaan dalam mengatasi masalah gizi dan kesehatan balita. (Abhy)

Senin, 16 Februari 2015

KAMPUNG NUTRISI - UPAYA PENANGGULANGAN MALNUTRISI


Kampung Nutrisi adalah sebuah program kesehatan berbasis masyarakat yang fokus pada proses rehabilitasi malnutrisi, penjagaan status gizi balita binaan dan pembentukan ketahanan pangan lokal. Program ini merupakan upaya penciptaan lingkungan yang kondusif bagi penyehatan balita melalui pelibatan masyarakat. Pelibatan masyarakat dilakukan agar masyarakat mampu terlibat dan berkontribusi aktif pada setiap program dengan dilandasi kemauan untuk menerapkan perilaku sadar gizi dalam kehidupan sehari-hari. Program Kampung Nutrisi terdiri dari upaya revitalisasi posyandu, pemulihan status gizi balita, pengadaan sarana sanitasi yang berkualitas dan pembentukan ketahanan pangan wilayah.
Program Kampung Nutrisi memiliki tujuan sebagai berikut:
  1. Membentuk wilayah yang mampu menangani masalah gizi balita dengan tepat melaluipembentukan sarana layanan gizi balita yang berkualitas.
  2. Mendorong kesadaran masyarakat untuk menerapkan kaidah kesehatan dan gizi dalam memenuhi kebutuhan pangan anggota keluarganya dengan meningkatkan pengetahuan kesehatan dan gizi pada kader dan masyarakat binaan.
  3. Menciptakan ketahanan pangan melalui optimalisasi potensi pangan lokal dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Wilayah penerima bantuan dan calon penerima bantuan, salah satunya di Desa Genting Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang, Semarang
Kami mengajak Bpk / Ibu donatur untuk berpartisipasi dalam program Kampung Nutrisi. Nilai partisipasi program ini kami tawarkan senilai Rp. 200.000,- atau fleksibel, Donasinya dapat melalui :
  • Transfer via rekening Mandiri 135.00.5566.7784 an. Yayasan Pos Keadilan Peduli Ummat
  • Konfirmasi transfer ke SMS center PKPU Semarang 085799761104
  • Layanan jemput donasi hubungi hotline PKPU Semarang 08112787578
  • Atau bersilaturahim langsung ke kantor kami Jl. Setiabudi No. 70 Semarang
Jazaakumulloh khairon kastsiron, semoga Allah SWT mejaga langkah dan niat kita selalu berada dalam keridhoan-Nya. Aamiin.


Minggu, 01 Februari 2015

Taman Toga Gajah Mungkur


Semarang, (22/1/2015) Sebagai salah satu upaya gerakan peningkatan kepedulian masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan rumah sebagai penanaman tanaman obat , PKPU Semarang bekerjasama dengan PT. PLN (Persero) JMK (Jasa Manajemen Kontruksi) mengadakan Lomba Taman Toga . 

Lomba tersebut diadakan di Kelurahan Gajah Mungkur Kecamatan Gajah Mungkur Semarang. 
Acara ini berupaya untuk membantu masyarakat menjaga kesehatannya menjadi lebih baik dan menjaga kesehatan lingkungan dengan membudidayakan tanaman – tanaman obat pada lahan – lahan pekarangan rumah yang tak terpakai.
Para peserta lomba adalah perwakilan dari PKK di setiap RW di Kelurahan Gajah Mungkur. Para peserta lomba sudah memulai membuat taman, semenjak tanggal 22 Desember 2014 yang lalu, dengan mendapatkan modal untuk masing – masing RW sebanyak Rp 500.000, untuk pembelian tanaman obat.

Adapun penilaian lomba dilakukan oleh Tim PKK kecamatan dan kelurahan beserta perwakilan PT PLN JMK  berdasarkan ragam jenis tanaman obat, terdapat tanaman pengusir nyamuk, kondisi tanaman, kebersihan dan kerapihan taman. Pemenang lomba akan diberikan uang pembinaan pada 15 Februari 2015 nanti. 


Acara lomba Taman Toga ini merupakan satu dari serangkaian program CSR (Corporate Social Responsibility) kerjasama PKPU Semarang dan  PT PLN JMK . Program CSR tersebut bergerak di bidang kesehatan dan lingkungan masyarakat berupa program bantuan tempat sampah dan penanggulangan demam berdarah. Nilai kerjasama mencapai Rp 65.802.000 untuk mendanai program CSR ini.

“Program ini merupakan bentuk kepedulian PT. PLN kepada masyarakat sekitar, terutama maslah lingkungan sampah dan penanggulangan nyamuk”, tutur Sahat Gultom sebagai Wakil CSR PT. PLN JMK 


Dengan adanya program CSR ini, harapannya bisa membantu masyarakat untuk bisa menjaga kesehatan diri, lingkungan dan bisa menangani masalah sampah secara mandiri dan berkelanjutan.  (Abhy)




Senin, 25 Agustus 2014

Pusat Pemulihan SEHATI “Sehatkan Keluarga dan Buah Hati Indonesia"

Penyerahan PMTP (Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan)

Penimbangan Balita SEHATI

Pengukuran tinggi badan balita SEHATI

Aktivitas PP (Pusat Pemulihan) SEHATI
Pusat Pemulihan SEHATI merupakan salah satu dari program SEHATI yang dilaksanakan oleh PKPU Kota Semarang bersama PT. Phapros, Tbk di Kabupaten Semarang, tepatnya di Dusun Bogosari dan Bangunsari, desa Pringsari, kecamatan Pringapus. Pada Bulan Agustus 2014, Pusat Pemulihan dilaksanakan di Rumah salah satu kader posyandu (23/8). Pusat pemulihan berlangsung dari pukul 10.00-12.00 WIB. Agenda yang berjalan meliputi pemantauan status gizi dengan melakukan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan pengukuran lingkar lengan atas dan lingkar kepala. Agenda ini diikuti oleh balita yang memiliki status gizi yang masih kurang atau buruk.
Selain pemantauan status gizi, juga dilakukan penyuluhan dan pemberian PMT pemulihan. Penyuluhan pada bulan ini berupa demo masak. Penyuluh memberikan contoh membuat cemilan yang variatif untuk balita. Setelah itu anak-anak diminta untuk praktik cuci tangan secara mandiri. Agenda dilanjutkan dengan minum susu f-100 dan makan bersama. Setelah agenda sebuah selesai kemudian acara ditutup dengan pembagian PMT Pemulihan yang berisi susu formula, biskuit, madu, minyak ikan dan abon sapi. Program ini merpukan hasil kerjasama antara PT. Phapros, Tbk, PKPU dan masyarakat. (Nur Khayati)